Sabtu Pintar (SAPI) : Hewan dalam Akuntansi

Hewan dalam Akuntansi
Indonesia merupakan Negara yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar biasa. Salah satunya adalah sumber daya alam hewani baik yang hidup di darat, di air, ataupun di udara yang disebut juga dengan satwa.
Satwa adalah segala macam jenis sumber daya alam hewani yang berasal dari hewan yang hidup di darat, air dan udara. (Dirjen Perlindungan Hutan & Pelestarian alam : 1993). Satwa lebih dikenal dengan sebutan binatang atau hewan, contoh satwa seperti kucing, anjing, ayam, harimau, dan masih banyak lagi. Ada populasinya masih terjaga dan ada pula yang sudah mulai langka, contohnya seperti Badak Jawa, Pesut Mahakam, Kangguru pohon windiwoi dan lain sebagainya.
Satwa merupakan salah satu sumber daya alam yang dimanfaatkan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu bentuk umum pemanfaatan satwa tersebut adalah untuk diperjualbelikan dan diambil hasil produksinya, contohnya seperti satwa di peternakan. Akan tetapi, terdapat juga satwa yang dilindungi manusia, dengan tujuan menghindari perburuan dan kepunahan, yang biasanya ditempatkan dikebun binatang. Meskipun keduanya termasuk golongan satwa, terdapat perbedaan dalam perlakukan akuntansi terkait pengakuan bagi satwa di peternakan dengan di kebun binatang.
Menurut IAS 41, aset biologis adalah makhluk hidup seperti satwa maupun tumbuhan hidup yang melalui transformasi biologis mampu menyebabkan perubahan secara kualitatif dan kuantitatif pada aset itu sendiri sehingga memungkinkan perubahan manfaat dari segi ekonomis di masa mendatang. Di Indonesia sendiri, standar akuntansi yang menjelaskan mengenai aset biologis diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 69.
PSAK 69 mengatur perlakuan akuntansi atas produk-produk agrikultur, misalnya pohon bagi perusahaan yang bergerak di bidang perhutanan, sapi bagi perusahaan peternakan, dll. Menurut PSAK 69, aset biologis diakui saat memenuhi beberapa kriteria yang sama dengan kriteria pengakuan aset. Aset biologis diukur pada saat pengakuan awal dan setiap akhir periode pelaporan pada nilai wajar dikurangi biaya penjualan, kecuali nilai wajar tidak dapat diukur secara andal.
Peternakan yang memang mengimplementasikan PSAK ini, mengakui satwanya pada nilai wajar yang dapat diukur secara andal saat tiba di peternakan dan jika terjadi kelahiran. Pada umumnya, satwa di peternakan dapat dan seringkali diperjualbelikan di pasar sehingga pengakuan harga atau nilai di pasar tersebut akan menjadi acuan bagi penentuan nilai wajar satwa. Nilai wajar dari aset biologis yang diperjualbelikan ini harus dapat diukur secara andal dan nantinya dikurangi dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk menjual. Akan tetapi, jika satwa di peternakan tidak memiliki harga pasar, alternatif yang dapat digunakan untuk mengukur nilai wajar satwa adalah dengan mengestimasikan manfaat ekonomi berdasarkan produk agrikultur yang dihasilkan. Dapat disimpulkan bahwa karena pengukuran nilai wajar satwa di peternakan dapat diukur secara andal, maka mereka dapat dikategorikan sebagai aset biologis. Namun, bagaimana dengan satwa di kebun binatang yang termasuk dalam satwa dilindungi?
Satwa di kebun binatang terbilang belum tepat bila dikategorikan sebagai aset biologis karena sulit ditentukan nilai wajarnya yang diakibatkan oleh tidak adanya riwayat jual beli yang konsisten dari satwa tersebut. Selain itu, satwa di kebun binatang tidak dapat dikategorikan sebagai aset biologis karena mayoritas kebun binatang merupakan organisasi nirlaba yang tidak memiliki basis objektif untuk mengevaluasi nilai wajar satwanya.
Sebagai contoh, yaitu kebun binatang San Diego yang mengakui dan mencatat koleksi satwanya sebanyak $1 dikarenakan kesulitan dalam mengevaluasi nilai wajar satwanya secara andal sebab bergerak secara nirlaba, ditambah lagi dengan kenyataan bahwa hewan di kebun binatang lebih bervariatif dibanding hewan di peternakan dari segi spesies, umur, jenis kelamin, hubungan dengan hewan lain, dan status, sehingga semakin menyulitkan penentuan nilai wajarnya. Oleh karena itu, koleksi satwa pada kebun binatang tidak diakui sebagai aset biologis, tetapi diakui sebagai biaya pada periode pengakuan dan sebagai pendapatan pada periode penjualan.
Dapat diketahui bahwa ternyata akuntansi memiliki perlakuan yang berbeda terhadap satwa di kebun binatang dan di peternakan. Satwa di peternakan dikategorikan sebagai aset biologis karena dapat ditentukan nilai wajar serta manfaat ekonominya di masa mendatang secara andal. Sementara itu, kebun binatang, yang umumnya berbentuk organisasi nirlaba, tidak memiliki basis objektif untuk mengevaluasi nilai wajar satwanya. Dengan tidak adanya riwayat jual beli satwa yang konsisten serta variasi satwa di kebun binatang yang lebih banyak dibandingkan dengan di peternakan, penentuan nilai wajar satwa di kebun binatang menjadi tidak praktis. Oleh karena itu, mayoritas satwa di kebun binatang tidak diakui sebagai aset, tetapi diakui sebagai biaya. Namun, jika kebun binatang tersebut merupakan organisasi yang mencari laba dan satwanya memiliki nilai pasar serta biaya pada saat penilaian, satwa tersebut dapat diakui sebagai aset. Dengan demikian, meskipun sama-sama dikategorikan sebagai satwa, satwa di peternakan dengan satwa di kebun binatang memiliki perlakuan akuntansi berbeda karena tujuan, sifat, serta tingkat kesulitan penentuan nilai wajar yang berbeda.

Sumber:
PSAK 69 – Akuntansi Agrikultur
http://www.iaiglobal.or.id/v03/standar-akuntansi-keuangan/pernyataan-sak-79-psak-69-agrikultur
http://eprints.undip.ac.id/68309/1/12_DERMAWAN.pdf
http://www.ksap.org/sap/wp-content/uploads/2019/02/SAP2_Kajian-Akuntansi-Hewan-Ternak.pdf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DIY・ガーデン, キッズ&ベビー | キッズ&ベビー, キッチン用品 | キッチン用品, ダイエット・健康 | チャリティー, デスク | 美容・コスメ・香水が登場です | ライト・照明器具 | 家電, 寝具, 掃除・洗濯 | メンズバッグ, 寝具, 掃除・洗濯 | ライト・照明器具, レディースバッグ | 文具・卓上用品, 日用品 |